Iklan

TIDAK TERIMA DITEGUR ! SEORANG SISWA MENGANIAYA GURUNYA SENDIRI HINGGA BABAK BELUR !

Kuambil.com - Assalamualaikum wr wb,,,,,,,,,,, Selamat malam rekan-rekan guru semua yang berada diseluruh Indonesia, malam ini kuambil.com akan membagikan informasi mengenai,,,,,,,,

Wajah pendidikan kita cukup tercoreng kala mendengar peristiwa pemukulan seorang guru oleh muridnya sendiri (Pos Kupang, 23 April 2016). Tidak menerima teguran, si guru honor itu dianiaya babak belur. Fakta ini cukup menarik perhatian di tengah sibuknya elemen-elemen pendidikan (kementerian pendidikan, lembaga pendidikan, guru, murid) kita sedang bahu-membahu berjuang memenangkan UN.


Fakta bahwa provinsi kita selalu berada di peringkat ke 30, 31, atau 32 dalam persentase kelulusan, cukup untuk mengatakan bahwa kita masih lemah dalam level kognitif. Ditambah dengan peristiwa penganiayaan terhadap guru di Maulafa itu, bukan aspek kognitif saja yang bernilai "merah", sisi afektif dan emosional pelajar kita pun bernilai buruk. Kasus ini menambah panjang daftar hitam yang mencemarkan image pendidikan di wilayah kita.

Tentu tindakan seorang siswa penganiaya tidak cukup untuk mengesahkan statement: "sisi afektif dan psikomotorik semua siswa-siswi di NTT buruk." Namun satu peristiwa --yang kebetulan diberitakan ini--kiranya dapat menjadi pokok refleksi diri, demi peningkatan mutu pendidikan di wilayah kita. Bertumpu pada kasus pemukulan di Maulafa, tulisan ini memuat catatan penulis untuk para pelajar dan pendidik.

Bagi para pelajar
Tentu ada motif di balik pemukulan tersebut. Yang diberitakan adalah tidak menerima teguran sang guru. Mungkin saja ada motif atau dalih-dalih subjektif dan objektif lain. Namun bagi saya, pemukulan oleh pelajar terhadap pendidik amat primitif, menyakitkan, dan berbahaya. Primitif karena ketika dalam sekolah formal, kita sibuk berjuang menumbuhkan nilai-nilai manusiawi, unsur infra-human yang malah dibuktikan. Hanya makhluk yang hidup dengan insting, yang kerap berlaku demikian.

Situasi ini berbeda jika pendidik yang memukul muridnya. Ada nuansa mendidik di sana. Namun, walaupun bernuansa mendidik, kekerasan oleh guru tetap tidak mendapat tempat dalam UU terkini. Banyak kasus ketika para guru "dipolisikan" karena bertindak "keras" pada siswanya. Pendidik pun tidak bisa seenaknya memukul siswanya. Kini kondisinya terbalik. Ada murid yang seenaknya memukul guru. Hukuman baginya pasti berlipat ganda.

Fakta ini menyakitkan karena peristiwa memukul pendidik seolah-olah hendak membalikkan arus umum. Pelajar, yang hakekatnya belajar, mungkin tidak puas dengan statusnya, mau juga bertindak sebagai pendidik dan "mendidik" gurunya. Tindakannya seolah mengafirmasi anomali pelajar "mendidik" pendidik. Boleh saja sang murid bercita-cita menjadi pendidik, namun cukupkanlah diri dahulu dengan ilmu, janganlah terburu-buru, nantikan saja waktu yang tampan.

Imbas dari tindakan seorang siswa yang demikian amat luas. Itulah mengapa saya mengatakan tindakan siswa serupa ini berbahaya. Vonis saya pada awal tulisan ini bahwa image pendidikan kita makin buruk adalah salah satunya. Dalam skala yang lebih kecil, orang-orang di sekitar penganiaya terciprat "getahnya". Sudah menjadi tipikal masyarakat kita untuk menuduh kegagalan orangtua dalam mendidik, ketika sang anak bertindak onar.

Walau mungkin orangtua dan keluarga mendidik baik, tetap saja mereka yang akan menjadi objek "tatapan," "tudingan", dan "keluhan." Jika demikian yang terjadi, saya cukup prihatin dengan orangtua atau keluarga yang terpaksa menanggung malu. Berhati-hati dalam bertindak dan mempertimbangkan dahulu sebelum berkeputusan adalah keniscayaan. Jangan sampai orang lain harus turut menanggung kekonyolan kita (baca: pelajar).

Bagi para pendidik
Jika dibaca dalam konteks refleksi, tindakan pemukulan ini bisa saja merupakan akumulasi "kejengkelan" yang terpendam dalam diri siswa terhadap si guru. Tentunya, tindakan memukul bukanlah ungkapan yang bijak dan baik. Namun, bagi para pendidik, menjadi sosok yang bukan saja dihargai, tetapi dicintai murid-murid adalah keharusan. Jika sang guru adalah pendidik yang dicintai, tidak mungkin muridnya berlaku kasar dan "durhaka" terhadapnya, walau ia (murid) sedang dibalut kejengkelan dan amarah sekalipun.

Pendidik akan dicintai jika ia tidak hanya mentransfer ilmu yang berkaitan dengan disiplin yang ditanganinya, melainkan "mendidik" sisi afektif dan emosional siswanya dengan teladan, pengalaman, dan motivasi-motivasi. Jika telah lelah berbicara, diam dan berikan saja teladan. Jika murid-murid tidak lagi mampu menangkap ilmu, ajar mereka dengan pengalaman-pengalaman. Jika murid-murid sedang down, angkat mereka dengan motivasi-motivasi. Guru atau pendidik yang demikian tidak mungkin "ditendang". Ia tidak hanya akan "dipeluk", tetapi juga "dicium". Tidak hanya akan "dicintai", tetapi "dikenang." Pendidik mana yang tidak ingin dikenang karena kualitas-kualitas nilainya?*

Oleh Venan Meolyu
Mahasiswa STFK Ledalero

Sumber : tribunnews

Demikian berita yang dapat kuambil.com berikan, semoga ada manfaatnya untuk kita semua, Untuk info terbaru lainnya, bisa kunjungi laman    DISINI

0 Response to "TIDAK TERIMA DITEGUR ! SEORANG SISWA MENGANIAYA GURUNYA SENDIRI HINGGA BABAK BELUR !"

Post a Comment

Iklan