SEBELUM UNDANG-UNDANG ANAK HADIR, GURU BAK SEORANG RAJA DIDALAM SEKOLAH , SISWA MENUNDUK DAN SUNGKAN JIKA BERPAPASAN DENGAN GURU, SEKARANG... ???

Kuambil.com - Assalamualaikum wr wb,,,,,,,,,,,,,,,,, Selamat pagi rekan-rekan guru semua yang berada diseluruh Indonesia, pagi ini kuambil.com akan membagikan informasi mengenai,,,,,,,,,,,

Setiap orangtua walimurid pasti menginginkan anaknya menjadi pribadi yang baik, cerdas, dan berguna untuk masyarakat, agama, dan negara. Tidak hanya orangtua, guru sebagai pendidik juga menginginkan hal serupa.


Pada tahun 2002 lalu, pemerintah mengesahkan undang-undang perlindungan anak. Di mana anak mendapatkan perlindungan dari tindak diskriminasi, eksploitasi, kekerasan, dan banyak ragam perlindungan lainnya. Seorang anak memang perlu dilindungi, namun undang-undang perlindungan anak saat ini bak pedang bermata dua yang di satu sisi dapat menimbulkan polemik lainnya.

Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Mungkin itu ungkapan paling tepat untuk nasib guru saat ini. Dengan kesejahteraan yang masih tertatih, mereka masih harus bisa memendam kesal jika siswa berbuat onar dan sulit untuk diberi peringatan secara lisan.

Sebelum hadirnya undang-undang tersebut hadir, guru bak seorang raja di dalam lingkup sekolah. Dengan berbagai otoritas dan kekuasaan yang dimiliki, siswa selalu bersikap menunduk sungkan jika kebetulan berpas-pasan di koridor sekolah.

Era berubah. Dia yang dihormati, disegani dan memiliki beban moral hingga dianggap pahlawan tanpa tanda jasa, kini hanya seperti seorang karyawan yang datang untuk menggugurkan kewajibannya saja, dalam hal ini hanya sebatas mengajar saja, tidak mendidik siswa.

Kondisi ini diakui oleh Kepala Bidang Pembinaan SD, Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi, Heri Erlangga. Kepada Radar Bekasi dia  menceritakan, jika zaman dulu dirinya bahkan tak berani bercerita ke orangtua apabila mendapatkan masalah di sekolah. Hal tersebut tentunya berbanding terbalik dengan saat ini yang justru siswa berlomba-lomba mengadukan hukuman yang diberikan guru tanpa menceritakan kenapa dirinya dihukum.

“Kalau sekarang, dicubit aja langsung ngadu, guru kita diperkarakan ke polisi. Padahal kalau zaman dulu, kita ngadu ke orangtua, malah tambah dipukulin,” ujarnya.

Peran guru sendiri menurutnya saat ini sudah jauh tersunat. Anak didik yang dahulu tercetak dengan akhlak yang baik, kini hanya memiliki kecerdasan tanpa punya sikap dan etika yang baik. “Kita hormat dengan guru kita, tidak seperti saat ini yang memang cerdas, tapi kurang dalam hal beretika,” ungkapnya.

Dirinya juga menyayangkan sikap orangtua murid yang melebih-lebihkan hukuman yang diberikan oleh guru. Heri sendiri berharap,  orangtua dapat menyikapi hukuman yang diberikan guru dengan bijak. Terlebih jika hal tersebut masih dalam batas wajar.

“Seperti kasus yang terbaru ini, yang di Sulawesi, menurut saya masih wajar, tapi karena mungkin orangtuanya merasa berpangkat, semena-menalah dia, jadi arogan,” pungkasnya.

penuturan seupa juga disampaikan oleh Rochmani, Kepsek SMKN 1 Cibarusah ini justru mengancam akan mengembalikan anak didiknya apabila ada orangtua yang tidak suka dengan cara pendidikan yang ada di instansinya.

Dia berharap pemerintah dapat memberikan payung hukum untuk melindungi guru-guru yang selama ini berposisi tersudutkan. “Saya harap juga, guru-guru kita dapat dilindungi dengan undang-undang, biar orangtua sendiri juga tidak bisa semena-mena kepada kita,” ucapnya.

Sumber : pojoksatu

Untuk info terbaru lainnya, bisa kunjungi laman    DISINI

Demikian info yang dapat kuambil.com berikan, semoga ada manfaatnya untuk kita semua...............

1 Response to "SEBELUM UNDANG-UNDANG ANAK HADIR, GURU BAK SEORANG RAJA DIDALAM SEKOLAH , SISWA MENUNDUK DAN SUNGKAN JIKA BERPAPASAN DENGAN GURU, SEKARANG... ???"

  1. kritikan sy atas opini yg dbngun mlalui tulisan ini:
    yg pertama: tidak ada yg salah dng hdirnya UU no 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, sebab UU ni merupkan tindak lanjut (konsekuensi yuridis) pasca pemerintah indonesa meratifikasi Konvensi hak anak yg d lahirkan oleh badan PBB,dng kata lain konvensi hak anak menjdi dasar,acuan sxgus bukti bahwa anak sangat rentan terhadap segala tindakan kekerasan termasuk pelanggaran terhadap hak-haknya.
    yg kedua: yg jdi prmasahan skali lgi bkan pda UU nya melainkan lbh pda ketidak siapan msyrakat bangsa ini dlam segala lini untuk mnerima khdiran UU ni. ketidak siapan yg sy maksud adlah terletak pda mind set yg keliru dn praktek pngasuhan yg jg keliru trhadap anak sjak lahir hngga ank brada dlam usia emas yg kmdian kkliruan ini mnjdi ssuatu yg permanen dlm diri ank shingga brdmpak pd tndkan anak trsbut termsuk ktika berada d lngkungan sekolah. dng dmikian ank tdk bsa dsalahkan krn gg slah adlh orng dewasa.
    yg ketiga: kekeliruan pengasuhan sprti yg sy mksdkan d atas brdmpak.pd perilaku anak ktika ada d lingkungan sekolah yg kmudian d labelkan mnjdi "anak nakal",lagi2 anak jdi korban atas ketidak bersalahannya. dng kondisi ini pula guru2 kmudian melegitimasi tindakan kekerasan (hukuman) sxgus danggap sbgai solusi untuk mnyikapi sikap anak2 ni....prtnyaannya apakah kekerasan dlm bentuk apapun bsa mnjdi solusi yg efektif untuk merubah perilaku anak2 ini?, jawaban sy "tidak"!, sebab kekerasan fisik maupun verbal pd anak hnya menimbulkan 2 hal negatif berikutx yakni rasa takut pd anak.artinya anak mnjdi penurut hnya karena rasa takut bukan krn kesadarannya sndiri yg dbngun dng cara2 yg humanis dn jauh lbh efektif.
    kemungkinan lainx adalah kekersan berakibat pada psikis anak kedepanx (anak jdi pengecut,pendendam,pemberontak dll) sx lg hal ini tdk menyelesaikan mslah.
    yg ketiga: pola pikir lama dmana guru menganggap dri bak raja agar d hormati bukanlah ssuatu yg positif dn efektif sbg seorang pendidik..sbab dng brpikiran dmikian guru cenderung mnjdi arogan,otiriter dn mengandalkan kekerasaan sbgai solusi pnyelesaian msalah anak.
    anak selalu djadikan objek dng minim partisipasi dlm proses belajar mengajar.
    apakah pikiran sprti ini tpat?
    kritikan sy tdk sma sx bertendensi apa pun...sy ttap respect trhadap profesi mulia dr seorang guru..namun perubahan itu pnting.pling tidak brbagi pkiran untuk menyelaraskan pemahaman kita trhadap anak yg notabene adlah makhluk yg unik dn kompleks.

    ReplyDelete